Curah Hujan Bawa Kualitas Minum yang Buruk Bagi Anak

1

JATIMTECH.com – Seorang peneliti dari Florida State University telah menarik hubungan antara dampak perubahan iklim dengan kualitas air minum yang tidak steril. Asisten Profesor Geografi Chris Uejio telah menerbitkan studi pertamannya tentang pengolahan air minum, perubahan iklim, dan masa proyeksi penyakit pencernaan untuk masyarakat Wisconsin Utara (USA). Penelitian ini mengeksplorasi kualitas pengolahan air minum yang diciptakan oleh perubahan iklim.

Kebanyakan orang mungkin tidak menyadari hal ini, tetapi ada sekitar 20 juta orang di negara yang akses airnya telah tercemari, kata Uejio. Kualitas air karena perubahan musim disebabkan oleh curah hujan yang mana membawa penyakit patogen bagi anak-anak. Penelitian Uejio kabarnya mengukur bagaimana curah hujan di masa depan dapat mempengaruhi kesehatan manusia. Dia bermitra dengan Wisconsin Departemen Kesehatan dan Rumah Sakit Anak dari Wisconsin untuk memeriksa anak usia 5 tahun dan di bawahnya yang beresiko terkena penyakit gastrointestinal (GI).

Wisconsin dipilih karena memiliki geografi yang unik, kata Uejio. Wisconsin memiliki beberapa karakteristik hidrogeologi yang membuatnya sedikit lebih rentan terhadap pencemaran air. Mereka juga memilih Wisconsin karena ada beberapa kota disana yang tidak mengukur kualitas kebersihan air minum mereka. Hal ini memberikan perbandingan alami untuk melihat apakah curah hujan terkait dengan lebih banyak orang sakit di daerah-daerah tersebut. Uejio dan tim peneliti memakai tiga skenario yang berbeda yang mana meliputi lima wilayah kota Wisconsin utara.

Skenario pertama diuji dengan jumlah risiko GI terkecil jika perubahan iklim berlangsung pada lintasan saat ini. Uejio menemukan bahwa tanpa tambahan instalasi pengolahan air minum, peningkatan curah hujan bisa mencapai 1,5 persen dengan ketinggian air mencapai 3,6 persen. Penyakit gastrointestinal meliputi berbagai penyakit mulai dari sakit perut ringan dan gejala yang lebih berat bahkan dibutuhkan waktu mencapai 69 hari perawatan di rumah sakit. Dari kasus yang diperiksa antara Tahun 1991 dan 2010, telah ada 7 persen dari anak-anak yang dirawat di rumah sakit karena penyakit tersebut.

Kedua skenario ini diduga karena perubahan iklim ditambah tingkat latar belakang pengobatan yang kurang mendukung. Uejio juga menemukan bahwa beberapa pengobatan lanjutan akan membantu meringankan dampak perubahan iklim yang semakin bergerak maju, tapi sampai saat ini penyebaran penyakit masih tetap tinggi di kalangan anak-anak. Uejio berharap studinya akan menjadi batu loncatan bagi para peneliti lain untuk menyelidiki dampak penyakit ini jika menyebar luas di negara-negara lainnya yang dilansir dari Sciencedaily, Senin (13/02/2017.