Dugaan penyalah-gunaan data oleh oknum memanfaatkan celah di Facebook tampanya belum mereda, malah justru berbuntut panjang. Meski pendirinya, Mark Zuckerberg sudah menyampaikan maaf, namun otoritas Israel mengatakan pada haris Kamis kemarin bahwa mereka tengah melakukan penyelidikan atas aktivitas Facebook menyusul skandal pembajakan data pribadi jutaan pengguna jejaring sosial itu.

Agen perlindungan privasi Israel “menginformasikan Facebook” atas penyelidikan tersebut beberapa hari setelah setelah bocornya transfer data dari raksasa teknologi ke konsultan Cambridge Analytica.

Lembaga itu juga mencari kemungkinan pelanggaran lain dari undang-undang privasi Israel, katanya dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh kementerian kehakiman.

Bahkan koran Guardian Inggris melaporkan bahwa peretas Israel menawarkan materi ke Cambridge Analytica. Namun juru bicara kementerian kehakiman Israel mengatakan penyelidikan itu tidak melibatkan peretas, lebih berfokus pada apakah hak-hak pengguna Israel dilanggar atau tidak.

Di bawah hukum privasi Israel, data pribadi hanya dapat digunakan dengan izin dan untuk tujuan yang dilaporkan, kata lembaga perlindungan privasi.

“Oleh karena itu, otoritas akan menyelidiki apakah data pribadi warga Israel secara ilegal digunakan dengan cara yang melanggar hak privasi mereka,” katanya.

Kepala Facebook Mark Zuckerberg telah berjanji untuk “meningkatkan” pengawasan dan memperbaiki masalah terkait skandal Cambridge Analytica.

Skandal itu meletus ketika seseorang yang cukup punya pengaruh mengungkapkan bahwa konsultan data di Inggris telah memanfaatkan data sekitar 50 juta pengguna Facebook untuk memenangkan Trump pada pemilihan presiden Amerika Serikat dua tahun lalu.